:) :( ;) :D ;;-) :-/ :x :P :-* =(( :-O X( :7 B-) :-S #:-S 7:) :(( :)) :| /:) =)) O:-) :-B =; :-c :)] ~X( :-h :-t 8-7 I-) 8-| L-) :-a :-$ [-( :O) 8-} 2:-P (:| =P~ :-? #-o =D7 :-SS @-) :^o :-w 7:P 2):) X_X :!! \m/ :-q :-bd ^#(^ :ar!

Senin, 15 Desember 2014


ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT HELLENISME DAN ROMAWI

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas :
Mata kuliah                  : Filsafat
Dosen pengampu         : Latifatul Izzah, M.Ag

  
                                                        Disusun oleh:
Nama :1.  Yusuf Solihun Anwar     NIM    :  131200090
             2.  Erlina Silfa Pratiwi         NIM    :  131200093  


SEKOLAH TINGGI ILMU AGAMA
ALMA ATA YOGYAKARTA
2013
A.      SEKITAR FILSAFAT YUNANI
Sebelum filsafat islam lahir, di timur dan di barat telah terdapat berbagai alam pikiran, diantaranya adalah pikiran Mesir Kuno, Sumeria, Babilonia, Asria, Iran, India, Cina , Yunani. Dari pemikiran-pikiran tersebut di atas yang paling banyak hubungannya, bahkan menjadi sumber filsafat Islam, ialah filsafat Yunani walaupun pikiran Iran dan India juga banyak memberikan sumbangannya.
Filsafat Yunani yang sampai pada pemikiran Islam tidaklah seperti yang ditinggalkan oleh orang-orang Yunani sendiri. Tetapi sudah melalui pikiran Hellenisme Romawi. Oleh karena itu, tidak semua pemikiran filsafat yang sampai kepada dunia Islam berasal dari Yunani, baik teks aslinya maupun ulasan-ulasannya, tetapi hasil dari dua paham yang berturut turut, yaitu fase Hellelisme dan fase Hellelisme Romawi. Oleh karena itu, dalam pemikiran filsafat tersebut terdapat dua corak yang berbeda. Fase Hellelisme ialah fase ketika pemikiran pemikiran filsafatnya hanya dimiliki orang-orang Yunani, sejak abad ke-6 atau ke-5 sebelum Masehi sampai abad ke-4 sebelum Masehi. Sedangkan fase Hellelisme Romawi (Greko.Romawi) ialah fase yang datang sesudah fase Hellelisme, meliputi semua pemikiran filsafat yang ada pada masa kerajaan Romawi, dan ikut serta mebicarakan peninggalan pikiran Yunani. Antara lain pemikiran Romawi di Barat dan pemikiran di Timur yang ada di Mesir dan Siria. Fase ini dimulai akhir abad ke-4 sebelum Masehi sampai pertengahan abad ke-6 Masehi di Bizantium dan Roma, atau sampai abad ke-8 Masehi di Siria dan Irak.
Abad ke-5 SM merupakan zaman keemasan Yunani. Kuil-kuil indah dengan patung yang bagus-bagus didirikan. Yang terindah ialah Kuil Parthenon di atas Bukit Acropolis. Kuil ini tempat memuja Dewi Athena, pelindung ilmu pengetahauan dan budaya.
Seni bangunan dan seni rupa terutama diabadikan untuk agama. Orang Yunani menyembah banyak dewa. Mereka politheistis. Menurut kepercayaan Yunani Kuno, dewa-dewa itu adalah manusia yang sempurna bentuk badannya dan mempunyai sifat-sifat manusia pula, misalnya cemburu, suka perang dan saling bertengkar. Bukit Olympus adalah kediaman dewa-dewa itu. Di sana tinggal pula dewa dari segala dewa, yaitu dewa Zeus. Sekali empat tahun orang mengadakan pertandingan olahraga untuk menghormati Zeus. Pertandingan itu disebut Olympiade.
Masyarakat Yunani bersifat demokratis. Masalah masyarakat dipecahkan dalam suatu rapat warga polis (kota). Hal itu menghendaki daya tangkap yang cepat, daya kritik yang tajam , dan kecakapan mengemukakan pendapat di depan umum. Kecakapan membaca di depan umum ini disebut retorika. Seorang yang cakap dan tandas berpidato disebut orator. Kegiatan-kegiatan masyarakat itu menimbulkan  kebutuhan akan pengajaran dan ilmu pengetahuan.
Sekolah yang seperti sekarang belum ada. Orang-orang pandai mengumpulkan pemuda-pemudi pengikutnya. Mereka mendirikan “sekolah” yang disebut gymnasium. Pelajaran diberikan sambil berjalan keliling. Orang-orang pandai itu disebut sofis (sophist), yaitu orang yang mengabdi pada sophi (ilmu pengetahuan).
Mereka menggunakan akal atau rasio dan memerangi tahyul serta kebodohan. Sebab hal itu juga merusak kepercayaan kepada dewa-dewa warisan nenek-moyang. Keragu-keraguan timbul sebagai gantinya, yang dapat mengakibatkan keguncangan di dalam masyarakat.
Kaum penguasa merasa kedudukan mereka terancam. Oleh sebab itu mereka melarang kegiatan-kegiatan kaum sofis. Salah seorang yang besar pengaruhnya di antara kaum sofis ialah Socrates (+ 400 SM). Karena tidak mau mematahui larangan para penguasa, ia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.
Socrates dapat dianggap sebagai peletak dasar ilmu pengetahuan modern. Ilmu pengetahuannya didasarkan atas pengamatan yang tajam dan akal yan kritis untuk mencapai simpulan yang logis. Murid Socrates yang meneruskan jejak yang dirintisnya ialah Plato.
Orang-orang Yunani purba suka hidup bebas dan merdeka. Tiap-tiap kota atau polis, betapa pun kecilnya, mempunyai kemerdekaan atau hak otonomi yang luas . Hak itu dipertahankan matimatian. Penduduk polis juga menuntut untuk aktif ikut dalam pemerintahan polis-nya.
Rasa kemerdekaan yang besar itu sering mengakibatkan perang antara polis yang satu dengan yang lain. Peperangan antara polis-polis itu mengakibatkan kebebasan Yunani itu lenyap. Yunani dikuasai oleh Makedonia. Di zaman itu hidup “bapak” ilmu pengetahuan Eropa, Aristoteles. Ia melarikan diri ke Makedonia dan menjadi guru putra mahkota, Alexander (Iskandar Zulkarnaen)
Pengaruh Aistoteles atas perkembangan ilmu pengetahuan modern besar sekali. Dengan perantara orang Arab, sebagian ahli waris kebudayaan Yunani lama, karangan-karangan Aristoteles mempengaruhi alam pikiran Abad Pertengahan ( + 500 - + 1500 M). Berbagai ilmu pengetahuan diselidiki dan disusun sistematiknya oleh Aristoteles. Aristoteles adalah peletak dasar ilmu moden.
Roma, pusat kerajaan Romawi, didirikan pada abad ke-8 SM di tepi Sungai Tiber. Dari kota ini kemudian orang menaklukkan seluruh Jazirah Italia. Roma berkembang menjadi “kerajaan dunia”  yan meliputi seluruh daerah Eropa Selatan, Daerah pesisir Laut Mediterania dari Spanyol sampai Seria, Daerah pantai Afrika Utara dari Mesir sampai ke Selatan Gibraltar. Oleh sebab itu Laut mediterania mereka sebut Mare Nostum (laut kita).
Di Italia dan Sisilia ada koloni-koloni Yunani. Di sini kebudayaan Yunani tidak asing lagi. Bahasa Yunani menjadi bahasa pergaulan kaum cerdik pandai dan orang-orang trkemuka. Orang Romawi yang berada mempunyai budak belian orang Yunani, yang menjadi sekretaris pribadi atau guru anak-anaknya.
Cara berfikir Yunani lambat-laun berpengaruh juga di Romawi. Orang Romawi terkenal sebagai organisator. Mereka ahli dalam soalsoal ketatanegaraan, terutama dalam bidang hokum dan perundang-undangan. Melalui Napoleon, hukum pidana dan hukum perdata Romawi berpengaruh pula di bagian-bagian Eropa lainnya, dan juga di Indonesia hingga sekarang.
Bangsa Romawi juga unggul di bidang kemiliteran sehingga dapat menguasai hamper seluruh dunia yang mereka kenal waktu itu. Hal itu bukan karena prajurit-prajurit Romawi lebih berani, melainkan karena susunan ketentaraan Romawi jauh lebih rapi daripada musuh-musuhnya.



1.        Ciri khas fase Hellelisme
a.          Filsafat Yunani bukanlah hasil ciptaan filsuf-filsuf Yunani semata-mata, melainkan sebagai pilihan dari kebudayaan Yunani sebelum masa berfilsafat. Sebab filsafat di Yunani mula-mula dimaksudkan untuk melepaskan diri dari kekuasaan golongan agama berhala (bersahaja) dengan jalan menguji kebenaran ajarana-ajarannya. Apa yang dapat dibenarkan oleh akal pikiran dinamakan filsafat, dan apa yang tidak dapat ditrima oleh akal pikiran dimasukkan kedalam “cerita-cerita keagamaan”. Oleh karena itu, dalam filsafat Yunani terdapat unsure-unsur agama bersahaja (agama berhala), antara lain kepercayaan tentang adanya banyak zat yang mempengaruhi alam dan yang menjadi sumber segala peristiwanya, meskipun dalam bentuk yang berbeda dengan apa yang ada pada agama Yunani sendiri. Sebab zat yang berbilang dalam agama itu dinamakan “dewa-dewa”, sedangkan dalam filsafat disebut “akal benda-benda langit”, sebenarnya yang kita lihat antara “akal bulan” dengan “akal manusia”. Menurut filsafat Yunani, bukan hanya sebab yang pertama (first cause) yang mempengaruhi alam, tetapi juga ada kekuatan-kekuatan lain yang ikut serta mempengaruhinya. Yaitu akal-akal yang mengerakkan benda-benda langit. Demikian pula “api” yang oleh Heraclitus dianggap sebagai asal kejadian alam, boleh jadi karena pengaruh pemujaanapi yang dikenal oleh agama-agama Iran pada umumnya dan sampai di Yunani sesudah adanya pertemuan antara Barat dan Timur.
b.         Filsafat Yunani sifatnya tidak selaras, sebab memang semua terdiri atas bermacam-macam soal yang tidak selaras, Sampai-sampai orang-orang yang mempunyai pemikiran filsafat sistematis (seperti Plato dan Aristoteles) juga tidak terhindar dari ketidakselarasan ini karena dalam menguraikan suatu persoalan filsafat, mereka masih terpengaruh oleh pikiran-pikiran orang sebelumnya yang juga berbeda-beda pula. Makasistem filsafat mereka tidak lain hanyalah merupakan usaha secara luas untuk mencukupi segala hasil pemikiran filsafat yang telah ada. Contoh: Teori Plato adalah usaha pemaduan antara dua pikiran yang berlawanan. Heraclutus mengatakan bahwa segala sesuatu ini telah berubah (panta rhei). Pendapat ini telah berubah pula oleh Protagoras (tokoh sofisme), menjadi ajaran yang mengatakan bahwa “manusia menjadi ukuran segala sesuatu” (man is the measure of all things). Kebalikan dari Heraclutus ialah Parmenidas. Ia terkenal dengan sebutan ajaran aliran elea yang menyatakan bahwa semua wujud ini satu, tidak banyak, yang satu itu tetap dan tidak ada perubahan. Kedua pendapat yang berlawanan ini dipadukan oleh Plato dengan mengatakan adanya dua alam, yaitu alam nayat (real) dan alam inderawi (sensible).
Pembagian Aristoteles terhadap wujud menjadi form dan matter merupakan bentuk lain dari cara penggabungan pendapat-pendapat Heraclutus dan Parmenidas. Aristoteles mengatakan bahwa hanya zat yang ada dengan sendirinya dan tidak berubah-ubah itulah yang dapat menjadi objek pengetahuan. Alam inderawi (sensible things) itulah yang datang kemudian dan bias berubah-ubah, oleh karena itu bisa ada dan bisa tidak ada (to be and not to be; possible both to be and not to be). Hanya zat yang bukan inderawi (non-sensible) yang menjadi objek pikiran kita dan tidak dapat berubah.
Selanjutnya yang perlu kita ketahui ialah bahwa adanya semua yang berubah mengharuskan mempercayai adanya zat yang tidak berubah. Dan tiap-tiap kejadian memerlukan adanya zat yang tidak dijadikan (that all change presupposes an unchangeable, and every becoming something that has not become).
Sekalipun Plato dan Aristoteles telah berhasil memadukan pikiran-pikiran filsafat sebelumnya, keduannya tidak dapat melepaskannya sama sekali karena pikiran-pikiran filsafat tersebut adalah hasil pikiran bermacam-macam aliran yang berbeda-beda pandangannya terhadap hidup dan alam ini.

 Aliran-aliran itu ialah:1
a.            Aliran ketuhanan: Aliran ini mengikuti zat-zat yang metafisik, diwakili oleh “aliran Elea” dan Socrates, yang mengatakan bahwa sumber alam inderawi adalah yang ada di luarnya
b.            Aliran mistik : Tokohnya Pitagoras. Ia mengingkari nilai alam inderawi, dan karena itu aliran ini menganjurkan kepada manusia untuk meninggalkannya serta menuju kepada alam yang penuh kesempurnaan, kebahagiaan, dan kebebasan mutlak, sesudah terikat oleh benda alam ini.
c.             Aliran kemanusiaan: Aliran ini menghargai manusia setinggi-tingginya, dan mengakui kesanggupannya untuk mencapai pengetahuan. Aliran ini diwakili oleh Socrates dan golongan-golongan sofis.
d.            Aliran tabi’i (natural philosophy): Tokohnya Democritus dan filsuf-filsuf Ionia. Menurut aliran, ini alam itu abadi.
Aliran-aliran tersebut diatas jelas akan mempengaruhi hasil pemikiran filsuf-filsuf yang mendatang, bagaimanapun kuat dan besarnya filsuf-filsuf tersebut. Plato, meskipun mengakui adanya Tuhan, tidak jelas pendapatnya tentang alam, qadim-kah atau hadis.
Ia lebih condong kepada tasawuf, namun ia terkenal sebagai pencipta teori universalitas (kulliyat) dan logika seperti yang terlihat dalam bukunya, Euthydemus dan Gorgias. Sedang tasawuf  berdasarkan mata hati, dan logika berdasarkan pikiran.
     Aristoteles adalah serang monoisme,yang mengakui keesaan sumber alam semesta, yaitu zat yang wajibul-wujud. Akan tetapi ia membenarkan azali-nya alam keabadian jiwa, yang kemudian menyebabkan adanya pluralitas pada alam qadim.
1 Poerwantana, Seluk Beluk Filsafat Islam, 1994, hal. 73.
Meskipun Aristoteles telah mempertemukan aliran-aliran filsafat yang ada sebelum dia, hasil pemikirannya masih menunjukkan asanya ketidakselarasan.
     Ketidakselarasan mengakibatkan timbulnya perbedaan antara Plato dengan Arisoteles. Adapun usaha-usaha untuk menghapuskan perbedaan itu seperti Al-Farabi dalam bukunya Al-Jam’u baina Sa’jai Al-Hakiman.
2.        Ciri khas fase Hellelisme Romawi2
Meskipun secara keseluruhan masa Hellelisme Romawi mempunyai corak yang sama, dalam perkembangannya dapat dibagi ke dalam tiga masa, yang masing-masing memiliki corak sendiri-sendiri.
Masa pertama ialah abad ke-5 sampai pertengahan abad pertama sebelum  masehi. Aliran-aliran yang terdapat didalamnya ialah:
a.       Aliran Epicure: Pendirinya Epicurus. Ajarannya ialah bahwa kebahagiaan manusia merupakan tujuan utama.
b.      Aliran Stoa: Pendirinya Zeno. Ajarannya ialah agar manusia jangan sampai bisa digerakkan oleh kegembiraan atau kesedihan (jadi menahan diri dalam menghadapinya) dan menyerahkan diri tanpa syarat kepada suatu keharusan yang tidak bisa ditolak dan yang menguasai segala sesuatu.
c.       Aliran skeptis (ragu-ragu): Aliran ini meliputi aliran Phyrro dan aliran akademi baru. Ajarannya ialah bahwa untuk sampai kepada kebenaraan, kita harus percaya dulu bahwa sesuatu tidak akan sampai kepada kebenaran atau mengingkari kebenaran mutlak (objektif).
Masa kedua dimulai pada pertengahan abad pertama sebelum Masehi sampai pertengahan abad ketiga Masehi. Corak pemikiran pada masa ini ialah seleksi dan penggabungan, yaitu memilih beberapa pemikiran filsafat kuno dan menggabungkan pikiran-pikiran itu satu sama lain, agar menggabungkan pikiran-pikiran itu satu pihak dengan ketentuan agama dan tasawuf  Timur dan lain pihak. Aliran yang terdapat pada masa ini ialah (1) aliran Paripatetik terakhir, (2) aliran Stoa baru, (3) aliran Epicur baru, (4) aliran Pitagoras, dan (5) aliran Filsafat Yahudi dan Philo.
     Filsafat Hellelisme Yahudi adalah suatu pemikiran filsafat yang mempertemukan filsafat Yahudi dengan kepercayaan Yahudi, dengan jalan penggabungan satu dengan yang lain, atau membuat susunan baru yang mengandung kedua unsur tersebut.
Masa ketiga ialah dari abad ketiga masehi sampai pertengahan abad ke-6 di Bazantium dan Roma, atau sampai pertengahan abad ke-7 atau ke-8 di Iskandariah dan Asia Kecil. Pada masa ini kita mengenal aliran-aliran (1) neo-Paltonisme, (2) Iskandariyah, dan (3) aliran filsafat di asia Kecil. Aliran-aliran ini merupakan kegiatan terakhir menjelang timbulnya aliran Baghdad, yaitu aliran filsafat Islam.
     Aliran Iskandariyah mempunyai corak tersendiri. Ia lebih banyak ditunjukkan kepada lapangan eksakta (seperti matematika, fisika) daripada lapangan metafisika. Bahkan lama-kelamaan soal-soal matematika ditinggalkan sama sekali.
     Tokoh-tokoh aliran Iskandariyah ialah (1) Hermias, (2) Stephanus, dan (3) Johannes Philoponos. Diantara aliran-aliran filsafat pada masa ketiga ini, neo-Platonisime adalah yang terpenting dan yang yang paling banyak pengaruhnya terhadap filsafat Islam.
3.        Neo-Platonisme
Aliran ini merupakan rangkaian terakhir atau rangkaian sebelum  terakhir dari fase Hellenisme Romawi, yaitu fase mengulang yang sama, bukan fase mencipta yang baru. Aliran ini juga masih berkisar pada filsafat Yunani, tasawuf  Timur, dan memilih dari sana sini kemudian digabungkan.
    
        2 Poerwantana, Seluk Beluk Filsafat Islam, 1994, hal. 73-75.

Oleh karena itu, di dalamnya terdapat ciri-ciri filsafat Yunani yang kadang-kadang bertentangan dengan agama-agama langit, yaitu agama Yahudi dan Masehi, karena dasar filsafatnya ialah kepercayaan rakyat yang mempercayai kekuasaan yang banyak. Karena sistem pilihan ini, maka di dalam neo-Platonisme terkandung unsur-unsur dari Platonisme, Pitagoras, Aristoteles, Stoa, dan tasawuf  Timur. Jadi, Neo-Platonisme mengandung unsur-unsur filosofikanya manusia (hasil usaha pemikiran manusia), keagamaan, dan keberhalaan (bukan agama langit).
Neo-Platonisme dengan unsur-unsur tersebut datang dan bersatu dengan kaum Muslimin melalui aliran Masehi di Timur Dekat, tetapi dengan baju lain, yaitu tasawuf Timur dan pengakuan akan keesaan Tuhan, zat “Yang Pertama” dengan ketunggalan yang sebenar-benarnya. Karena itu, mereka tertarik dengan filsafat tersebut dan menganggab bahwa filosof-filosof Yunani tidak memiliki pemikiran yang bertentangan dengan Islam.
Perbedaan neo-Platonisme debgan aliran Iskandariyah, yang berkembang sejak pertengahan abad ke-4 sampai pertengahan abad ke-7 ialah:

Neo-Platonisme
Aliran Iskandariyah
Ø  Berkisar pada segi metafisika pada filsafat Yunani yang mungkin dalam beberapa hal berlawanan dengan agama Masehi.
Ø  Lebih banyak mendasarkan pikirannya pada seleksi dan pemaduan.
Ø  Lebih condong kepada metafisika serta ilmu alam, meninggalkan lapangan metafisika, dan tidak berlawanan dengan agama Masehi.
Ø  Lebih banyak membuat ulasan-ulasan terhadap pikiran-pikiran filsafat.
Ulasan-ulasan dari aliran Iskandariyah dan aliran Hellenisme Romawi ada tiga macam:
a.       Ulasan dari golongan periperatik dari masa sebelum neo-Platonisme
b.      Ulasan dari aliran neo-Platonisme
c.       Ulasan dari orang-orang aliran Iskandariyah, seperti Hermias, Stephanus, dan Johannes Philophonos
Aliran neo-Platonisme mempunyai tiga fase, yaitu;
a.       Fase aliran platonis dan muridnya, Prophyrius
b.      Fase aliran Siria dari Iamblichus
c.       Fase aliran Athena dari Plutarch dan Proches
Tokoh penting diantara tokoh-tokoh tersebut adalah Plotinus. Plotinus mendasarkan filsafatnya berdasar pada dua dialektika (jalan), yaitu dialektika menurun untuk menjelaskan “wujud tertinggi” dengan teorinya “Yang Esa”  dan dialektika menaik. Dialektika digunakan untuk menjelaskan tentang akhlak dan jiwa dengan maksud untuk menentukan kebahagiaan tiap manusia.
4.         Epicuros dan Ajaran-Ajarannya pada Masa Etik
Dalam masa etik ada tiga macam aliran filsafat, yaitu aliran Epicuros, Stoa, dan Skeptis. Epicuros diambil dari nama pembangunan sekolah, stoa yang artinya ruang. Di ruang itu, Zeno dari Kiton sebagai gurunya. Nama Skeptis diperoleh karena sikapnya yang kritis terhadap filsafat klasik.
Epicuros sebagai pendiri sekolah filosofi ini lahir di Samos pada tahun 341 SM, ia merupakan guru filsafat di Mytilen dan Lamp-sakos dan ketika berusia 70 tahun yaitu pada tahun 217 SM Epicuros meninggal di Athena. Pada tahun 300 SM Epicuros datang ke Athena dan mendirikan sebuah sekolah filsafat dengan nama “Taman Kaum Epicuros”.
Epicuros menggunakan pengetahuan yang diperolehnya serta hasil penyelidikan ilmu yang sudah ada, sebagai pembebas manusia dari kekuatan agama, yaitu rasa takut terhadap dewa-dewa  yang tertanam dalam hati manusia. Menurut Epicuros ketakutan agama lah yang menjadi penghalang untuk mendapatkan kenikmatan hidup, maka filsafat harus merintis jalan menuju ksenangan hidup. Epicuros banyak mengemukakan pandangan filosofi alam Milesia, yang atheis serta banyak memakai teori Domokratos tentang atom dan gerakannya dalam lempeng kosong. Titik berat ajarannya terdapat pada etik, tata susila, dan moral.
Epicuros membagi filsafat dalam tiga bagian, yaitu:
a.            Ajaran Logika
Logika disini merupakan “kanonika”, sebagai norma yang membangun pengetahuan. Norma dan kriteria merupakan sesuatu yang terpandang (memiliki nilai), karena segala macam pandangan adalah benar, benar pula dalam jiwa yang memandang. Pandangan orang gila pun dianggap sebuah kebenaran. Logikanya tidak menerima kebenaran selain hasil pemikiran. Kebenaran hanya dicapai dengan pemandangan (penglihatan atau hasil indrawi) dan pengalaman. Epicuros adalah seorang empirisis, baginya kebenaran nyata hanya yang terpandang oleh indra.
b.            Fisika
Pelajaran fisika yang diajarkan kepada murid-muridnya berdasarkan ajaran logikanya. Dari ajaran fisika, Epicuros ingin membebaskan manusiadari kepercayaan kepada dewa-dewa. Ajarannya menyatakan bahwa dunia ini bukan dibuat dan dikuasai oleh dewa-dewa, melainkan digerakkan oleh hukum-hukum fisika, dsb.
c.             Etika
Ajaran etika Epicuros memusatkan untuk memperoleh kesenangan hidup. Yang dimaksud ialah barang yang paling tinggi nilainya, mencakup kesenangan badaniah dan rohaniah. Kesenangan jiwa diangga yang paling penting karena meliputi masa dulu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Tujuan etik Epicuros adalah agar memperkuat jiwa untuk menghadapi segala keadaan yang timbul atau yang akan timbul.

5.            Aliran dan Pikiran-Pikiran Stoa
Aliran Stoa didirikan di Athena oleh Zeno dari Kiton (133-266 SM). Zeno lahir di Kiton tahun 340 SM dan wafat di Athena pada 264 SM ketika berumur 76 tahun. Zeno merupakan saudagar yang kerap berlayar, suatu hari kapalnya karan di tengah laut. Zeno selamat namun hartanya habis tak bersisa. Karena itu, ia berhenti berniaga kemudian mendalami filsafat di Kynia dan Megaria dan belajar pada akademi dibawah pimpinan Xenokrates, murit Plato. Setelah itu Zeno mendirikan sekolah sendiri, bertempat di suatu ruang dipenuhi ukiran. Ruang dalam bahasa Greek adalah stoa, yang kemudian dipakai sebagai nama sekolahnya. Kaum Stoa membagi filsafat dalam tiga bagian:3
a.      Logika
Logika kaum Stoa bertujuan memperoleh kriterium tentang kebenaran. Mereka mempergunakan juga teori reproduksidari demokritos. Apa yang dipikiran tak lain dari yag telah diketahui dengan pemandangan. Menurut kaum Stoa, ucapan Aristoteles adalah suatu dalil yang belum dinyatakan kebenatannya. Suatu Petitio Principil, yaitu menerima sesuatunya sebelum diterangkan. Kriterium bagisuatukebenaran terletak pada evidensinya, kenyataannya, bahwa si pemandang itu terletak pada pikiran. Buah pikiran benar, apabila pemandangan itu tepat, yaitu memaksa kitamembenarkannya. Pemandangan yang benar ialah suatu pemandangan, yang menggambarkan barang yang dipandang dengan terang dan tajam, sehingga orang yang memandang itu terpaksa membenarkan dan menerima isinya.
b.      Fisika
Menurut kaum Stoa, alam semesta ini ditentukan oleh suatu kuasa yang disebut Logos (pikiran semesta). Oleh sebab itu, semua kejadian tunduk kepada hukum alam yang berjalan. Manusia tidak dapat mengelak. Manusia itu, jiwa atau rasio manusia bisa mengenali hukum alam. Manusia akan hidup bijaksana dan bahagia bila ia bertindak sesuai dengan rasionya. Jika memang demikian ia akan menguasai nafsu-nafsunya dan dapat mengendalikan diri secara sempurna untuk menyesuaikan hukum-hukum alam.
c.       Etika
Etika menurut kaum Stoa adalah mencari dasar-dasar umum untuk bertindak dan hidup tepat, kemudian melaksanakan dasar-dasar itu dalam penghidupan. Pelaksanaan yang tepat dari dasar-dasar itu merupakan jalan untuk mengatasi segala kesulitan dan memperoleh kesenangan dalam penghidupan. Mazhab Stoa berpendapat bahwatujuan hidup yang tertinggi ialah memperoleh harta yang terbesar nilainya, yaitu kesenangan hidup. Kemerdekaan moril seseorang adalah dasar segala etik kaum Stoa.















 

3 Atang Abdul Hakim, Filsafat Umum, 2008, hal 115-118.
KESIMPULAN
Fase Hellelisme ialah fase ketika pemikiran pemikiran filsafatnya hanya dimiliki orang-orang Yunani, sejak abad ke-6 atau ke-5 sebelum Masehi sampai abad ke-4 sebelum Masehi. Sedangkan fase Hellelisme Romawi (Greko.Romawi) ialah fase yang datang sesudah fase Hellelisme, meliputi semua pemikiran filsafat yang ada pada masa kerajaan Romawi.Terdapat banyak teori ide yang mempengaruhi dalam filsafat hellelisme Romawi seperti Plato, Epicuros dengan ajaran pada masa Etik, Zeno dengan aliran Stoa yang mempergunakan logika dan fisika sebagai dasar etik.















Buku-buku Hellenisme Romawi
Masa ini adalah sebelum masa neo-Platonisme. Dari masa ini ada dua buku yang sampai kepada kaum Muslimin, yaitu:
a.         Buku Introduction to Arithmetic karangan Nichomachus dari Gerasa yang hidup pada pertengahan abad ke-2 Masehi. Dalam pikiran-pikirannya ia lebih condong kepada aliran Pitagoras lama. Menurut santillana, sebagai akibat penerjemahan tersebut pikiran-pikiran aliran Pitagoras bercampur dengan pikiran-pikiran Babilonia purba pada golongan Sabiah di Irak, yaitu orang-orang Hazzan, dan pikiran-pikiran Pitagoras bercampur dengan ilmu kaum islam pada abad ke-4 H, seperti yang terlihat pada pikiran-pikiran Ar-Razi dan golongan ikhwanussafa.
b.        Buku Poimandres (Gembala yang Baik, the Good Shephered) mencerminkan paduan antara pemikiran Plato dan aliran Pitagoras baru dengan kepercayaan Meser Kuno. Buku tersebut berisi percakapan antara akal ketuhanan (logos) dengan muridnya, yaitu Hermes, dengan soal-soal yang bertalian dengan zat Tuhan, sumber alam dan limpahan sinar Tuhan (isyraq) pada manusia.
Tidaklah mengherankan kalau dikatakan bahwa Ibnu Sina dalam bukunya yang berjudul Hay bin Jaqadhan banyak yang mengambil dari buku Poimandres. Hay bin Jaqadhan sebenarnya adalah akal ketuhanan yang digambarkan sebagai seorang tua yang bagus raut mukanya, berwibawa dan menampakkan diri kepada muridnya Tema tersebut sama dengan tema buku Poimandres. Poimandres yang berarti gembala yang baik, adalah nama bagi akal ketuhanan yang nampak seperti orang tua yang bagus rupanya dan penuh kesabaran , yaitu Hermes, tentang rupa alam materi dan cara terjadinya

        






















DAFTAR PUSTAKA

Poerwantana, dkk.,Seluk Beluk Filsafat Islam, Remaja Rosdakarya, Bandung,    
    1994

Tidak ada komentar:

Posting Komentar