:) :( ;) :D ;;-) :-/ :x :P :-* =(( :-O X( :7 B-) :-S #:-S 7:) :(( :)) :| /:) =)) O:-) :-B =; :-c :)] ~X( :-h :-t 8-7 I-) 8-| L-) :-a :-$ [-( :O) 8-} 2:-P (:| =P~ :-? #-o =D7 :-SS @-) :^o :-w 7:P 2):) X_X :!! \m/ :-q :-bd ^#(^ :ar!

Senin, 15 Desember 2014


TEORI DAN PILAR-PILAR PENDIDIKAN
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas :
mata kuliah                  : Dasar-Dasar Pendidikan
dosen pengampu         : Suketi, M.Pd

 













Disusun oleh   :
Nama  : 1. Erlina Silfa Pratiwi         NIM:131200093
                          2. Vani Hanifah                   NIM:131200095





SEKOLAH TINGGI ILMU AGAMA 
ALMA ATA YOGYAKARTA
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sebagai mahasiswa jurusan keguruan dan ilmu pendidikan sudah selayaknya kita mengetahui tentang pendidikan itu sendiri khususnya apa saja unsur-unsur pendidikan sampai dengan pilar-pilar pendidikan. Disini dirasakan perlu mengetahui apa saja pilar-pilar dari pendidikan itu sendiri agar senantiasa para penikmat pendidikan bisa berorientasi pada produk dan hasil belajar. kemudian agar kita sebagai mahasiswa yang sedang belajar untuk dapat menguatkan sistem pendidikan khususnya pendidikan di Indonesia serta bagaimana kita bisa mengkonstruksi dasar dari suatu pendidikan serta adanya oknum pendidikan yang belum bisa mengaplikasikan pilar-pilar pendidikan.
Sehingga disini diharapkan dalam pembahasan mengenai pilar-pilar pendidikan kita sebagai calon pendidik diharapkan bisa nantinya untuk mengaplikasikan pilar-pilar ini ketika turun ke lapangan serta mampu membangun kesadaran kepada peserta didik untuk mengembangkan tujuan pendidikan dari pilar-pilar pendidikan yang ada.

B.     Rumusan Masalah
a.       Apa saja teori-teori pendidikan?
b.      Apa makna learning learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together, learning to learn?
c.       Bagaimana penerapan learning learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together, learning to learn dalam pembelajaran?

C.     Tujuan
a.       Untuk mengetahui teori-teori pendidikan
b.      Untuk mengetahui makna learning learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together, learning to learn
c.       Untuk mengetahui penerapan learning learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together, learning to learn


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Teori-teori Pendidikan
Menurut Muhammad Surya, teori merupakan suatu perangkat prinsip-prinsip terorganisasi mengenai peristiwa-peristiwa tertentu dalam lingkungan.
Jadi, teori adalah sebuah alat untuk membantu menjelaskan suatu. Ia merupakan penyederhanaan dari gejala-gejala kehidupan supaya mudah kita pahami dan kita jelaskan. Teori akan membantu kita memahami suatu gejala dan membedakan diri dengan penjelasan yang lain. Meskipun demikian perbedaan antara dua teori atau lebih yang berbeda tidak menutup kemungkinan ada suatu hal yang beririsan. Dan suatu teori yang baik diharapkan menghilangkan irisan-irisan itu sekecil mungkin, untuk memberikan pembedaan antara seperangkat penjelasan dengan lainnya yang memiliki karakternya masing-masing.[1]
Berikut ini merupakan pengertian pendidikan dari beberapa sumber:
a.         Dalam kamus besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata lakku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
b.         Menurut  J.J. Rousseau Pendidikan adalah memberi kita perbekalan yang tidak ada pada masa kanak-kanak, akan tetapi kita membutuhkannya pada waktu dewasa.
c.         Menurut UU Nomor 2 Tahun 1989 Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
Teori pendidikan merupakan landasan dalam pengembangan praktik-praktik pendidikan, misalnya pengembangan kurikulum, proses belajar-mengajar, dan manajemen sekolah. Kurikulum dan pembelajaran memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan teori pendidikan. Suatu kurikulum dan rencana pembelajaran disusun dengan mengacu pada teori pendidikan. Ada 4 (empat) teori pendidikan, yaitu (1) pendidikan klasik, (2) pendidikan personal, (3) teknologi pendidikan, dan (4) pendidikan interaksional.[2]
1.         Teori Pendidikan Klasik (Classical Education)
                 Teori pendidikan klasik berlandaskan pada filsafat klasik, seperti perenialisme, essensialisme, dan eksistensialisme, yang memandang bahwa pendidikan berfungsi sebagai upaya memelihara, mengawetkan dan meneruskan warisan budaya. Teori pendidikan ini lebih menekankan peranan isi pendidikan dari pada proses. Isi pendidikan atau materi diambil dari khazanah ilmu pengetahuan yang ditemukan dan dikembangkan para ahli tempo dulu yang telah disusun secara logis dan sistematis. Dalam prakteknya, pendidik mempunyai peranan besar dan lebih dominan, sedangkan peserta didik memiliki peran yang pasif, sebagai penerima informasi dan tugas-tugas dari pendidik.
                  Pendidikan klasik menjadi sumber bagi pengembangan model kurikulum subjek akademis, yaitu suatu kurikulum yang bertujuan memberikan pengetahuan yang solid serta melatih peserta didik menggunakan ide-ide dan proses “penelitian”, melalui metode ekspositori dan inkuiri.
2.         Teori Pendidikan Personal (Personalized Education)
                  Teori pendidikan ini bertolak dari asumsi bahwa sejak dilahirkan anak telah memiliki potensi-potensi tertentu. Pendidikan harus dapat mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik dengan bertolak dari kebutuhan dan minat peserta didik. Dalam hal ini, peserta didik menjadi pelaku utama pendidikan, sedangkan pendidik hanya menempati posisi kedua, yang lebih berperan sebagai pembimbing, pendorong, fasilitator dan pelayan peserta didik.

                    Teori ini memiliki dua aliran yaitu pendidikan progresif dan pendidikan romantik. Pendidikan progresif dengan tokoh pendahulunya -Francis Parker dan John Dewey- memandang bahwa peserta didik merupakan satu kesatuan yang utuh. Materi pengajaran berasal dari pengalaman peserta didik sendiri yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya. Ia merefleksi terhadap masalahmasalah yang muncul dalam kehidupannya. Berkat refleksinya itu, ia dapat memahami dan menggunakannya bagi kehidupan. Pendidik lebih merupakan ahli dalam metodologi dan membantu perkembangan peserta didik sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya masing-masing. Pendidikan romantik berpangkal dari pemikiran-pemikiran J.J. Rouseau tentang tabula rasa, yang memandang setiap individu dalam keadaan fitrah, memiliki nurani kejujuran, kebenaran dan ketulusan.
                 Teori pendidikan personal menjadi sumber bagi pengembangan model kurikulum humanis. yaitu suatu model kurikulum yang bertujuan memperluas kesadaran diri dan mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari lingkungan dan proses aktualisasi diri. Kurikulum humanis merupakan reaksi atas pendidikan yang lebih menekankan pada aspek intelektual (kurikulum subjek akademis).
3.         Teknologi Pendidikan
                 Teknologi pendidikan yaitu suatu konsep pendidikan yang mempunyai persamaan dengan pendidikan klasik tentang peranan pendidikan dalam menyampaikan informasi. Namun diantara keduanya ada yang berbeda. Dalam teknologi pendidikan, yang lebih diutamakan adalah pembentukan dan penguasaan kompetensi atau kemampuan-kemampuan praktis, bukan pengawetan dan pemeliharaan budaya lama.      Dalam konsep pendidikan teknologi, isi pendidikan dipilih oleh tim ahli bidangbidang khusus. Isi pendidikan berupa objek dan keterampilan-keterampilan yang yang mengarah kepada kemampuan vokational. Isi disusun dalam bentuk disain program atau disain pengajaran dan disampaikan dengan menggunakan bantuan media elektronika, dan para peserta didik belajar secara individual. Peserta didik berusaha untuk menguasai sejumlah besar bahan dan pola-pola kegiatan secara efisien. Keterampilan-keterampilan barunya segera digunakan dalam masyarakat. Guru berfungsi sebagai direktur belajar (director of learning), lebih banyak tugas-tugas pengelolaan dari pada penyampaian dan pendalaman bahan.
                  Teknologi pendidikan menjadi sumber untuk pengembangan model kurikulum, yaitu model kurikulum yang bertujuan memberikan penguasaan kompetensi bagi para peserta didik. Pembelajaran dilakukan melalui metode pembelajaran individual, media buku atau pun media elektronik, sehingga pebelajar dapat menguasai keterampilan-keterampilan dasar tertentu.
4.      Teori Pendidikan Interaksional 
                 Pendidikan interaksional yaitu suatu konsep pendidikan yang bertitik tolak dari pemikiran manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi dan bekerja sama dengan manusia lainnya. Pendidikan sebagai salah satu bentuk kehidupan juga berintikan kerja sama dan interaksi. Dalam pendidikan interaksional menekankan interaksi dua pihak dari guru kepada peserta didik dan dari peserta didik kepada guru. Lebih dari itu, interaksi ini juga terjadi antara peserta didik dengan materi pembelajaran dan dengan lingkungan, antara pemikiran manusia dengan lingkungannya. Interaksi ini terjadi melalui berbagai bentuk dialog. Dalam pendidikan interaksional, belajar lebih sekedar mempelajari fakta-fakta. Peserta didik mengadakan pemahaman eksperimental dari fakta-fakta tersebut, memberikan interpretasi yang bersifat menyeluruh serta memahaminya dalam konteks kehidupan. Filsafat yang melandasi pendidikan interaksional yaitu filsafat rekonstruksi sosial.          
 Pendidikan interaksional menjadi sumber untuk pengembangan model kurikulum rekonstruksi sosial, yaitu model kurikulum yang memiliki tujuan utama menghadapkan para peserta didik pada tantangan, ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi manusia. Peserta didik didorong untuk mempunyai pengetahuan yang cukup tentang masalah-masalah sosial yang mendesak (crucial) dan bekerja sama untuk memecahkannya.[3]

B.       Pilar-pilar Pendidikan
Menurut suwarno yang dikutip oleh Abdul Kadir menyebutkan, ada lima pilar pendidikan yang direkomendasikan UNESCO yang dapat digunakan sebagai prinsip pembelajaran yang bias diterapkan di dunia pendidikan.
1.    Learning to know  (belajar untuk mengetahui)
Belajar itu harus dapat memahami apa yang dipelajari bukan hanya dihafalkan tetapi harus ada pengertian yang dalam. Learning to know merupakan proses belajar untuk mengetahui dan mendapat informasi sebanyak-banyaknya, menyimpan, mengingat, dan juga memahami makna yang terdapat pada materi yang kita peroleh. Dalam learing to know kita diharapkan bias mengembangkan kemampuan melalui logika empirisme, transcendental (kemampuan untuk mengaitkan dengan nilai-nilai spiritual) untuk menangkap peluang agar pendekatan ilmiah biasa dilakukan.
Ada dua konsep yang perlu diterapkan oleh peserta didik dalam hal belajar :[4]
1.         Apa yang perlu diketahui
2.         Bagaimana cara efektif untuk mengetahuinya
Artinya bahwa dalam belajar untuk mengetahui, peserta didik harus memiliki tujuan yang akan dicapainya, hal apa saja yang harus diketahuinya, dan bagaimanakah cara atau proses yang harus ditempuhnya untuk dapat mengetahui hal-hal yang ingin ia ketahui.

2.    Learning to do (belajar, berbuat/melakukan)
Learning to do merupakan konsekuensi dari learning to know. Kelemahan model pendidikan dan pembelajaran yang selama ini berjalan lebih mengajarkan teori, dan kurang mengarahkan untuk praktik. Learning to do bukanlah pembelajaran yang hanya menumbuh kembangkan kemampuan berbuat mekanis dan keterampilan tampa pemikiran, tetapi mendorong peserta didik agar terus belajar bagaimana menumbuhkembangkan kerja, juga bagaimana mengembangkan teori atau konsep.
Dalam hal belajar untuk berkembang utuh ini, manusia dituntut untuk dapat menjadi makhluk individu yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi, menjadi makhluk sosial yang dapat hidup di masyarakat, manusia yang berguna bagi dirinya dan bagi orang lain. Artinya bahwa manusia sebagai makhluk individu memiliki dimensi kehidupan yang dapat mendasari segala perilakunya dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam hal belajar.

3.    Learning to be  (belajar menjadi seseorang)
Melengkapi learning to know dan learning to do, Rubinson Crussoe berpendapat bahwa manusia itu tidak bias hidup sendiri tanpa kerja sama, manusia saling membutuhkan satu sama lain dalam menjalankan kehidupan. Learning to be akan menuntun peserta didik menjadi ilmuan sehingga mampu menggali dan menentukan nilai kehidupannya sendiri dalam hidup bermasyarakat sebagai hasil belajarnya.

4.    Learning to live together  (belajar hidup bersama)
Learning to live together mengajarkan seseorang untuk hidup bermasyarakat dan menjadi manusia berpendidikan yang bermanfaat bagi diri sendiri, masyarakat maupun seluruh umat manusia. Kesempatan berinteraksi dengan berbagai individu atau kelompok individu yang bervariasi akan membentuk keperibadian pebelajar untuk memahami kemajemukan danmelahirkan sikap-sikap positif dan toleran terhadap keanekragaman dan perbedaan hidup.

5.    Learning how to learn
Proses belajar tidak boleh berhenti begitu saja meskipun seoranh pembelajar telah menyelesaikan sekolahnya. Hakekat manusia hidup adalah untuk berhadapan dengan masalah. Setiap manusia dituntut untuk bias menyelesaikan masalahnya. Apabila satu masalah teratasi, masalah lainnya menunggu untuk diselesaikan. Untuk itu learning how to learn mengarahkan peserta didik agar mampu mengembangkan strategi dan kiat belajar yang lebih independen, kreatif, inovatif, efektif dan efisien, dan penuh percaya diri, karena masyarakat adalah learning socetyatau knowledge society.

 Orang-orang yang mampu menduduki posisi sosial yang tinggi dan penting adalah mereka yang mampu belajar terus menerus. Learning how to learn mengeser model belajar menghafal menjadi model belajar mencari/meneliti. Dalam model belajar mencari/meneliti, peserta didik sendiri mencaridan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang di hadapinya, sedang pendidikan dituntut membimbing, memotivasi, memfasilitasi, dan menelusuri.[5]


























BAB III
PENITUP

A.    Kesimpulan

1.    Teori merupakan suatu perangkat prinsip-prinsip terorganisasi mengenai peristiwa-peristiwa tertentu dalam lingkungan
2.    Dari munculnya berbagai aliran pendidikan muncullah berapa teori-teori pendidikan, diantara teori-teori pendidikan tersebut adalah teori koneksionisme, hukum kesiapan (The Law of Readiness), hukum latihan (The Law of Exercise), hukum akibat (The Law of Effect), teori classica conditionins, teori operant conditionis, teori gestalt, teori medan dan teori humanistic.
3.    Dalam penerapan prinsip pembelajaran di dunia pendidikan, United Nations Educational Scientific and Cultural Organisation (UNESCO)  telah merekomendasikan enam pilar pendidikan yang dapat kita jadikannya sebagai prinsip pembelajaran, keenam pilar pendidikan tersebut yaitu learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together, learning how to learn dan learning throughtout learn.



















DAFTAR PUSTAKA

Kadir, Abdul. Dkk. Dasar-Dasar Pendidikan. Learning Assistance Program for Islamic School PGMI. 2009.

Nuralawiyah, Huda, http://hudanuralawiyah.wordpress.com/2011/11/25/makalah-teori-teori-pendidikan/, 2011, diakses pada 12 Maret 2014.




[1] Huda Nuralawiyah, http://hudanuralawiyah.wordpress.com/2011/11/25/makalah-teori-teori-pendidikan/, 2011, diakses pada 12 Maret 2014, waktu akses pukul 11.17 WIB
[2] Abdul Kadir, “Dasar-Dasar Pendidikan”  dalam Abdul Kadir dkk (ed.), Learning Assistence Program for Islamic Schools PGMI, cet.1,  (Yogyakarta: Prodi PGMI Fak. Tarbiah, 2009), hal. 7.
[3] Abdul Kadir, Dasar-dasar…, hal.7-9.
[4] Patimah Ahmad, http://patimahahmad.blogspot.com/2013/10/resume-4-pilar-pendidikan-menurut-unesco.html, 2013, diakses pada 12 Maret 2014, waktu akses pukul 09.50 WIB.
[5] Abdul Kadir, Dasar-Dasar…, hal. 9-11.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar