TEORI DAN PILAR-PILAR
PENDIDIKAN
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas :
mata
kuliah : Dasar-Dasar
Pendidikan
dosen
pengampu : Suketi, M.Pd
Disusun oleh :
Nama : 1. Erlina Silfa Pratiwi NIM:131200093
2. Vani Hanifah NIM:131200095
SEKOLAH
TINGGI ILMU AGAMA
ALMA
ATA YOGYAKARTA
PENDIDIKAN
GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
2013
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sebagai
mahasiswa jurusan keguruan dan ilmu pendidikan sudah selayaknya kita mengetahui
tentang pendidikan itu sendiri khususnya apa saja unsur-unsur pendidikan sampai
dengan pilar-pilar pendidikan. Disini dirasakan perlu mengetahui apa saja
pilar-pilar dari pendidikan itu sendiri agar senantiasa para penikmat
pendidikan bisa berorientasi pada produk dan hasil belajar. kemudian agar kita
sebagai mahasiswa yang sedang belajar untuk dapat menguatkan sistem pendidikan
khususnya pendidikan di Indonesia serta bagaimana kita bisa mengkonstruksi
dasar dari suatu pendidikan serta adanya oknum pendidikan yang belum bisa
mengaplikasikan pilar-pilar pendidikan.
Sehingga disini
diharapkan dalam pembahasan mengenai pilar-pilar pendidikan kita sebagai calon
pendidik diharapkan bisa nantinya untuk mengaplikasikan pilar-pilar ini ketika
turun ke lapangan serta mampu membangun kesadaran kepada peserta didik untuk
mengembangkan tujuan pendidikan dari pilar-pilar pendidikan yang ada.
B.
Rumusan Masalah
a.
Apa saja
teori-teori pendidikan?
b.
Apa makna
learning learning to know, learning to do, learning to be, learning to live
together, learning to learn?
c.
Bagaimana
penerapan learning learning to know, learning to do, learning to be, learning
to live together, learning to learn dalam pembelajaran?
C.
Tujuan
a.
Untuk mengetahui
teori-teori pendidikan
b.
Untuk mengetahui
makna learning learning to know, learning to do, learning to be, learning to
live together, learning to learn
c.
Untuk mengetahui
penerapan learning learning to know, learning to do, learning to be, learning
to live together, learning to learn
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori-teori
Pendidikan
Menurut Muhammad Surya, teori
merupakan suatu perangkat prinsip-prinsip terorganisasi mengenai
peristiwa-peristiwa tertentu dalam lingkungan.
Jadi, teori adalah sebuah alat untuk
membantu menjelaskan suatu. Ia merupakan penyederhanaan dari gejala-gejala
kehidupan supaya mudah kita pahami dan kita jelaskan. Teori akan membantu kita
memahami suatu gejala dan membedakan diri dengan penjelasan yang lain. Meskipun
demikian perbedaan antara dua teori atau lebih yang berbeda tidak menutup
kemungkinan ada suatu hal yang beririsan. Dan suatu teori yang baik diharapkan
menghilangkan irisan-irisan itu sekecil mungkin, untuk memberikan pembedaan
antara seperangkat penjelasan dengan lainnya yang memiliki karakternya
masing-masing.[1]
Berikut ini merupakan pengertian pendidikan dari beberapa
sumber:
a.
Dalam
kamus besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa pendidikan adalah proses
pengubahan sikap dan tata lakku seseorang atau kelompok orang dalam usaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
b.
Menurut
J.J. Rousseau Pendidikan adalah memberi kita perbekalan yang tidak ada pada
masa kanak-kanak, akan tetapi kita membutuhkannya pada waktu dewasa.
c.
Menurut
UU Nomor 2 Tahun 1989 Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik
melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di
masa yang akan datang.
Teori pendidikan merupakan landasan
dalam pengembangan praktik-praktik pendidikan, misalnya pengembangan kurikulum,
proses belajar-mengajar, dan manajemen sekolah. Kurikulum dan pembelajaran
memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan teori pendidikan. Suatu kurikulum
dan rencana pembelajaran disusun dengan mengacu pada teori pendidikan. Ada 4
(empat) teori pendidikan, yaitu (1) pendidikan klasik, (2) pendidikan personal,
(3) teknologi pendidikan, dan (4) pendidikan interaksional.[2]
1.
Teori Pendidikan
Klasik (Classical Education)
Teori pendidikan klasik berlandaskan
pada filsafat klasik, seperti perenialisme, essensialisme, dan eksistensialisme,
yang memandang bahwa pendidikan berfungsi sebagai upaya memelihara, mengawetkan
dan meneruskan warisan budaya. Teori pendidikan ini lebih menekankan
peranan isi pendidikan dari pada proses. Isi pendidikan atau materi diambil
dari khazanah ilmu pengetahuan yang ditemukan dan dikembangkan para ahli tempo
dulu yang telah disusun secara logis dan sistematis. Dalam prakteknya, pendidik
mempunyai peranan besar dan lebih dominan, sedangkan peserta didik memiliki
peran yang pasif, sebagai penerima informasi dan tugas-tugas dari pendidik.
Pendidikan klasik menjadi
sumber bagi pengembangan model kurikulum subjek akademis, yaitu suatu kurikulum
yang bertujuan memberikan pengetahuan yang solid serta melatih peserta didik
menggunakan ide-ide dan proses “penelitian”, melalui metode ekspositori dan
inkuiri.
2.
Teori Pendidikan
Personal (Personalized Education)
Teori pendidikan ini bertolak
dari asumsi bahwa sejak dilahirkan anak telah memiliki potensi-potensi
tertentu. Pendidikan harus dapat mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki
peserta didik dengan bertolak dari kebutuhan dan minat peserta didik. Dalam hal
ini, peserta didik menjadi pelaku utama pendidikan, sedangkan pendidik hanya
menempati posisi kedua, yang lebih berperan sebagai pembimbing, pendorong,
fasilitator dan pelayan peserta didik.
Teori ini memiliki dua aliran yaitu
pendidikan progresif dan pendidikan romantik. Pendidikan progresif dengan
tokoh pendahulunya -Francis Parker dan John Dewey- memandang bahwa
peserta didik merupakan satu kesatuan yang utuh. Materi pengajaran berasal dari
pengalaman peserta didik sendiri yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya. Ia
merefleksi terhadap masalahmasalah yang muncul dalam kehidupannya. Berkat
refleksinya itu, ia dapat memahami dan menggunakannya bagi kehidupan. Pendidik
lebih merupakan ahli dalam metodologi dan membantu perkembangan peserta didik
sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya masing-masing. Pendidikan romantik
berpangkal dari pemikiran-pemikiran J.J. Rouseau tentang tabula rasa, yang
memandang setiap individu dalam keadaan fitrah, memiliki nurani kejujuran,
kebenaran dan ketulusan.
Teori pendidikan personal menjadi
sumber bagi pengembangan model kurikulum humanis. yaitu suatu model kurikulum
yang bertujuan memperluas kesadaran diri dan mengurangi kerenggangan dan
keterasingan dari lingkungan dan proses aktualisasi diri. Kurikulum humanis
merupakan reaksi atas pendidikan yang lebih menekankan pada aspek intelektual
(kurikulum subjek akademis).
3.
Teknologi
Pendidikan
Teknologi pendidikan yaitu
suatu konsep pendidikan yang mempunyai persamaan dengan pendidikan klasik
tentang peranan pendidikan dalam menyampaikan informasi. Namun diantara
keduanya ada yang berbeda. Dalam teknologi pendidikan, yang lebih diutamakan adalah
pembentukan dan penguasaan kompetensi atau kemampuan-kemampuan praktis, bukan
pengawetan dan pemeliharaan budaya
lama. Dalam konsep pendidikan teknologi, isi
pendidikan dipilih oleh tim ahli bidangbidang khusus. Isi pendidikan berupa
objek dan keterampilan-keterampilan yang yang mengarah kepada kemampuan
vokational. Isi disusun dalam bentuk disain program atau disain pengajaran dan
disampaikan dengan menggunakan bantuan media elektronika, dan para peserta
didik belajar secara individual. Peserta didik berusaha untuk menguasai
sejumlah besar bahan dan pola-pola kegiatan secara efisien.
Keterampilan-keterampilan barunya segera digunakan dalam masyarakat. Guru
berfungsi sebagai direktur belajar (director of learning), lebih banyak
tugas-tugas pengelolaan dari pada penyampaian dan pendalaman bahan.
Teknologi pendidikan menjadi
sumber untuk pengembangan model kurikulum, yaitu model kurikulum yang bertujuan
memberikan penguasaan kompetensi bagi para peserta didik. Pembelajaran
dilakukan melalui metode pembelajaran individual, media buku atau pun media
elektronik, sehingga pebelajar dapat menguasai keterampilan-keterampilan dasar
tertentu.
4.
Teori
Pendidikan Interaksional
Pendidikan interaksional yaitu suatu
konsep pendidikan yang bertitik tolak dari pemikiran manusia sebagai makhluk
sosial yang senantiasa berinteraksi dan bekerja sama dengan manusia lainnya.
Pendidikan sebagai salah satu bentuk kehidupan juga berintikan kerja sama dan
interaksi. Dalam pendidikan interaksional menekankan interaksi dua pihak dari
guru kepada peserta didik dan dari peserta didik kepada guru. Lebih dari itu,
interaksi ini juga terjadi antara peserta didik dengan materi pembelajaran dan
dengan lingkungan, antara pemikiran manusia dengan lingkungannya. Interaksi ini
terjadi melalui berbagai bentuk dialog. Dalam pendidikan interaksional, belajar
lebih sekedar mempelajari fakta-fakta. Peserta didik mengadakan pemahaman
eksperimental dari fakta-fakta tersebut, memberikan interpretasi yang bersifat
menyeluruh serta memahaminya dalam konteks kehidupan. Filsafat yang melandasi
pendidikan interaksional yaitu filsafat rekonstruksi
sosial.
Pendidikan interaksional menjadi
sumber untuk pengembangan model kurikulum rekonstruksi sosial, yaitu model
kurikulum yang memiliki tujuan utama menghadapkan para peserta didik pada
tantangan, ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi
manusia. Peserta didik didorong untuk mempunyai pengetahuan yang cukup tentang
masalah-masalah sosial yang mendesak (crucial) dan bekerja sama untuk
memecahkannya.[3]
B.
Pilar-pilar
Pendidikan
Menurut suwarno yang dikutip oleh Abdul
Kadir menyebutkan, ada lima pilar pendidikan yang direkomendasikan UNESCO yang
dapat digunakan sebagai prinsip pembelajaran yang bias diterapkan di dunia
pendidikan.
1. Learning
to know (belajar untuk mengetahui)
Belajar itu harus dapat memahami apa yang dipelajari bukan hanya
dihafalkan tetapi harus ada pengertian yang dalam. Learning to know merupakan proses
belajar untuk mengetahui dan mendapat informasi sebanyak-banyaknya, menyimpan,
mengingat, dan juga memahami makna yang terdapat pada materi yang kita peroleh.
Dalam learing to know kita diharapkan bias mengembangkan kemampuan melalui
logika empirisme, transcendental (kemampuan untuk mengaitkan dengan nilai-nilai
spiritual) untuk menangkap
peluang agar pendekatan ilmiah biasa dilakukan.
Ada dua konsep yang perlu diterapkan oleh peserta didik dalam hal belajar :[4]
1.
Apa yang perlu diketahui
2.
Bagaimana cara efektif untuk mengetahuinya
Artinya bahwa dalam belajar
untuk mengetahui, peserta didik harus memiliki tujuan yang akan dicapainya, hal
apa saja yang harus diketahuinya, dan bagaimanakah cara atau proses yang harus
ditempuhnya untuk dapat mengetahui hal-hal yang ingin ia ketahui.
2.
Learning to do (belajar, berbuat/melakukan)
Learning to do
merupakan konsekuensi dari learning to know. Kelemahan model pendidikan dan
pembelajaran yang selama ini berjalan lebih mengajarkan teori, dan kurang
mengarahkan untuk praktik. Learning to do bukanlah pembelajaran yang hanya
menumbuh kembangkan kemampuan berbuat mekanis dan keterampilan tampa pemikiran,
tetapi mendorong peserta didik agar terus belajar bagaimana menumbuhkembangkan
kerja, juga bagaimana mengembangkan teori atau konsep.
Dalam
hal belajar untuk berkembang utuh ini, manusia dituntut untuk dapat menjadi
makhluk individu yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi, menjadi makhluk
sosial yang dapat hidup di masyarakat, manusia yang berguna bagi dirinya dan
bagi orang lain. Artinya bahwa manusia sebagai makhluk individu memiliki
dimensi kehidupan yang dapat mendasari segala perilakunya dalam kehidupan
sehari-hari termasuk dalam hal belajar.
3. Learning to be (belajar menjadi seseorang)
Melengkapi learning to
know dan learning to do, Rubinson Crussoe berpendapat bahwa manusia itu tidak
bias hidup sendiri tanpa kerja sama, manusia saling membutuhkan satu sama lain
dalam menjalankan kehidupan. Learning to be akan menuntun peserta didik menjadi
ilmuan sehingga mampu menggali dan menentukan nilai kehidupannya sendiri dalam
hidup bermasyarakat sebagai hasil belajarnya.
4. Learning to live together (belajar hidup bersama)
Learning to live
together mengajarkan seseorang untuk hidup bermasyarakat dan menjadi manusia
berpendidikan yang bermanfaat bagi diri sendiri, masyarakat maupun seluruh umat
manusia. Kesempatan berinteraksi dengan berbagai individu atau kelompok
individu yang bervariasi akan membentuk keperibadian pebelajar untuk memahami kemajemukan
danmelahirkan sikap-sikap positif dan toleran terhadap keanekragaman dan
perbedaan hidup.
5.
Learning how to
learn
Proses belajar tidak
boleh berhenti begitu saja meskipun seoranh pembelajar telah menyelesaikan
sekolahnya. Hakekat manusia hidup adalah untuk berhadapan dengan masalah.
Setiap manusia dituntut untuk bias menyelesaikan masalahnya. Apabila satu
masalah teratasi, masalah lainnya menunggu untuk diselesaikan. Untuk itu
learning how to learn mengarahkan peserta didik agar mampu mengembangkan
strategi dan kiat belajar yang lebih independen, kreatif, inovatif, efektif dan
efisien, dan penuh percaya diri, karena masyarakat adalah learning socetyatau
knowledge society.
Orang-orang yang mampu menduduki posisi sosial
yang tinggi dan penting adalah mereka yang mampu belajar terus menerus.
Learning how to learn mengeser model belajar menghafal menjadi model belajar
mencari/meneliti. Dalam model belajar mencari/meneliti, peserta didik sendiri
mencaridan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang di hadapinya,
sedang pendidikan dituntut membimbing, memotivasi, memfasilitasi, dan
menelusuri.[5]
BAB
III
PENITUP
A. Kesimpulan
1.
Teori
merupakan suatu perangkat prinsip-prinsip terorganisasi mengenai
peristiwa-peristiwa tertentu dalam lingkungan
2.
Dari munculnya berbagai aliran pendidikan muncullah
berapa teori-teori pendidikan, diantara teori-teori pendidikan tersebut adalah
teori koneksionisme, hukum kesiapan (The Law of Readiness), hukum latihan (The
Law of Exercise), hukum akibat (The Law of Effect), teori classica
conditionins, teori operant conditionis, teori gestalt, teori medan dan teori
humanistic.
3.
Dalam penerapan prinsip pembelajaran di dunia pendidikan,
United Nations Educational Scientific and Cultural Organisation
(UNESCO) telah merekomendasikan enam pilar pendidikan yang dapat
kita jadikannya sebagai prinsip pembelajaran, keenam pilar pendidikan tersebut
yaitu learning to know, learning to do, learning to be, learning to live
together, learning how to learn dan learning throughtout learn.
DAFTAR
PUSTAKA
Kadir, Abdul. Dkk. Dasar-Dasar Pendidikan. Learning Assistance Program for Islamic
School PGMI. 2009.
Ahmad, Patimah . http://patimahahmad.blogspot.com/2013/10/resume-4-pilar-pendidikan-menurut-unesco.html,
2013, diakses pada 12 Maret 2014.
Nuralawiyah,
Huda, http://hudanuralawiyah.wordpress.com/2011/11/25/makalah-teori-teori-pendidikan/, 2011, diakses pada 12 Maret 2014.
[1] Huda Nuralawiyah, http://hudanuralawiyah.wordpress.com/2011/11/25/makalah-teori-teori-pendidikan/, 2011, diakses pada 12 Maret 2014, waktu akses pukul 11.17 WIB
[2] Abdul Kadir, “Dasar-Dasar
Pendidikan” dalam Abdul Kadir dkk (ed.), Learning Assistence Program for Islamic
Schools PGMI, cet.1, (Yogyakarta: Prodi PGMI Fak. Tarbiah,
2009), hal. 7.
[3]
Abdul Kadir, Dasar-dasar…, hal.7-9.
[4]
Patimah Ahmad, http://patimahahmad.blogspot.com/2013/10/resume-4-pilar-pendidikan-menurut-unesco.html,
2013, diakses pada 12 Maret 2014, waktu akses pukul 09.50 WIB.
[5] Abdul Kadir, Dasar-Dasar…, hal. 9-11.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar